KEMBANG GOYANG

Padepokan silat di pedalaman hutan Gunung Lawu itu tampak sepi kerontang. Pasalnya tinggal enam murid yang tersisa di padepokan itu. Meskipun memiliki guru yang termasyur di Kabupaten Ngawi. Namun padepokan itu seraya tampak tak laku. ”Ilmu bukan barang dagangan yang diperjualbelikan” merupakan prinsip tertinggi yang dipegang teguh padepokan itu. Sehingga tak tampak berlomba-lomba mencari murid. Keenam murid itu adalah orang-orang terpilih. Murid yang tekat belajarnya sangat kuat. Mereka adalah orang-orang yang terseleksi alamiah sehingga bertahan di padepokan. Padepokan yang mirip dengan kuil dimana para biksu mengabdi dan belajar.
Berkali-kali Sang Guru mendapat tawaran untuk mengajar di perguruan lain yang lebih terkenal. Ajakan untuk menyatukan padepokan dengan lembaga-lembaga bela diri di Jawa Tengah dan Jawa Timur pun terus mengalir. Namun Sang Guru menolaknya. ”Ilmu itu tak dijual”, tolak beliau tegas. Dan para pelobipun terbirit-birit. Bagai bunga tak berbuah. Beliau sadar bahwa orang-orang luar hanya menginginkan Aji Kembang Goyangnya, bukan dirinya atau padepokan itu. Sang Guru selalu menghimbau muridnya untuk selalu berhati bersih dan niat tulus dalam belajar. Tanpa mengarap Aji Kembang Goyang itu ia wariskan padanya. ”Tak semua murid berhak mendapat ilmu itu”, tambah beliau.
Prinsip-prinsip itu lah yang membuat Sang Guru tambak berwibawa dihadapan dunia raya, khususnya murid-muridnya. Sang murid sangat segan dan patuh. Rasa bangga karena memiliki guru sakti, kuat dalam berfilosofi hidup dan tidak sombong begitu mengikat darah-darah kehidupan muridnya. Sang Guru layak dipandang sebagai pewaris sifat-sifat kenabian yang dimiliki Para Rasul terdahulu. Meskipun itu cuma secuil. Setidaknya lebih baik daripada para pembesar yang mengiklankan diri sebagai orang suci.
Namun pandangan itu berubah sejak Sang Guru mengangkat Adil sebagai asisten pelatih. Adil murid yang egois, sombong dan bermental penjilat. Sifat pembawaan yang tak dikontrolnya itu membuat teman-temannya agak mengasingkannya. Adil terkadang bertingkah di luar kemanusiaan. Teman-teman begitu menghujatnya dengan sebutan generasi bangsa kuli, generasi munafik, bangsa bermuka dua, cikal bakal penghianat dan sebagainya. Hujatan itu bagai air hujan yang menyirami tubuh Adil. Tapi tak dihiraukannya. ”Biarlah orang berkata apa, aku tetaplah aku”, cetus dia dalam hati. Ia begitu keras kepala lagi sombong.
Adil-lah orang yang mempersiapkan perlengkapan latihan ketika Sang Guru disampingnya. Ia terlihat sebagai sosok yang peduli. Tapi berbeda ketika Sang Guru tak bersamanya. Tidur lelap lebih dipilihnya daripada kerja bakti tak menguntungkan itu. ”Gantian donk ! Bukankah aku yang biasa mempersiapkan perlengkapan latihan”, pembelaan Adil dengan membuktikan pamrihnya. ”Ini saatnya mempekerjakan otot. Biar sehat. Biar kuat seperti saya”, tambahnya begitu menampakkan muatan filosofis lagi sombong. Kata-kata berwibawa itu sepantasnya diucapkan seorang ayah terhadap anaknya, bukan seorang Adil terhadap teman sejawatnya.
Di atas panggung sandiwara yang dibuatnya, Adil selalu tampil sebagai tokoh yang berperan mengambilkan air minum ketika Sang Guru nampak kehausan. Memijat tubuh guru saat Sang Guru kelelahan. Ia tampak dengan skenario manisnya, di atas suatu tujuan yang sudah dirintisnya sejak awal. Hingga akhirnya Sang Guru menunjuk Adil sebagai asisten pelatih. Murid lain tampak kecewa. Bukan iri saja yang membatu di hati mereka. Tetapi ketidakadilan yang memihak pada sosok manusia yang dianggapnya lebih rendah dari para pelacur.
Pandangan murid terhadap guru berubah haluan. Sang Guru dianggapnya sok bijaksana. Begitu cepat hipotesis buruk itu menyebar dari murid satu ke murid lainnya. Mengajarkan filosofi yang muluk itu begitu mudahnya. Namun melanggar filosofi itu terlihat sangat-sangat lebih mudah. Sang Guru tampak seperti politisi sedang menjilati ludahnya yang berceceran dilantai sangat kotor.
Seorang murid, Tamam mengingat suatu peristiwa. Sewaktu Sang Guru pernah mengatakan filosofi yang ia kagumi sampai sekarang. Dikatakannya oleh guru itu, golongan orang munafik lebih rendah derajatnya daripada golongan orang kafir. Kekaguman itu sirna ketika Sang Guru mengangkat seorang murid munafik beberapa derajat di atasnya. Pengangkatan Adil menunjukkan ketidakkonsistenan Sang Guru.
Tamamlah murid pertama yang keluar dari padepokan itu. Ia merasa kemampuannya melebihi kemampuan Adil. Rasa irinya mengalahkan semangatnya untuk belajar. Ia adalah murid perdana dalam angkatan itu. Begitu menyatu hatinya dengan padepokan itu. Selalu diingatnya bagaimana ia dan gurunya menyelamatkan perguruan itu dari fitnah masyarakat yang menganggapnya sebagai perguruan sesat. Hingga akhirnya mereka menang diatas meja hijau. Masyarakatpun dengan damai mencabut tuntutan itu. Sang provokator adalah anggota perguruan saingan. Ia ditangkap dan diadili.
Tamam tampak kecewa dengan tindakan Sang Guru yang dinilainya pilih kasih dan tak beralasan. Ia merasa lebih berhak menjadi asisten pelatih. Ia begitu kecewa ketika ingat kata-kata gurunya saat mengajar. Sang Guru mengatakan membenci tiga karakter manusia yaitu pencuri, pengemis dan penjilat *). Secara pribadi, Sang Guru menambahkan bahwa ia paling jijik dengan tipe orang ketiga. Para penjilat. Penjilat dianggapnya lebih rendah dari pada gerombolan pencuri maupun pengemis. Pencuri masih punya rasa malu. Pengemis masih punya rasa toleransi dan tak munafik. Tapi ketiganya tak ada bagi para penjilat. Ia begitu tak tahu malu, tak toleran dan munafik. Modus klasiknya memaksa korban secara halus. Berharap belas kasihan agar si korban mengabulkan keinginannya. Rasa perkewuh dalam tradisi Jawa itu dimanfaatkan untuk satu tujuan. Dalam topeng sandiwaranya.
Kata-kata Sang Guru dirasa gema omong kosong yang membentur hati dan pikiran Tamam. Vonis itu terlahir semenjak Sang Guru mengangkat Adil sebagai asisten pelatih. Ia sangat kecewa. Keputusan untuk menghentikan belajarnya sangat kuat. Ia pun rela meninggalkan padepokan itu.
Tingkah Adil semakin menjadi-jadi semenjak kepergian Tamam. Kesombongan itu semakin terlihat kuat dalam senyumnya. Tampak wajah kemenangan ketika Tamam, satu-satunya pesaingnya telah terkalahkan. Tamam adalah orang yang dekat dengan Sang Guru, selain Adil.
Adil menyebut teman-teman seperguruannya dengan sapaan ”mas”. Sapaan itu belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sapaan itu bukan sembarang sapaan. Sapaan itu bukanlah sapaan seorang adik kepada kakaknya. Teman-temannya begitu paham pribadi Adil. Sapaan itu adalah sapaan yang diucapkan Sang Guru kepada para murid. Dan ia menirunya. Bukan sekedar itu sapaan itu terasa seperti sapaan seorang direktur terhadap bawahannya yang telah melakukan kesalahan. Lebih bejat lagi, sapaan itu terasa seperti sapaan seorang majikan terhadap babunya. Begitu menyakitkannya sapaan itu.
Adil melakukan semua itu selayaknya seorang yang rendah diri. Tapi apakah seperti itu tampak seorang yang rendah diri ? Bukankah orang yang merasa rendah diri itu sesungguhnya adalah orang yang sombong ? Bukankah orang lebih suka terlihat bijaksana agar orang lain hormat kepadanya ? Ketika orang melihat seseorang berbahasa begitu halus kepada orang lain pastilah orang tersebut akan menganggapnya sebagai orang baik. Pendapat itu boleh dibenarkan. Tapi bagaimana dengan dua orang sebaya berkomunikasi dengan bahasa ”krama inggil” bukankah itu salah kaprah ? Bukankah itu lebai?. Sederetan pertanyaan itu mengbrondong kepala dan hati murid lainnya. Agar mereka berfikir. Agar mereka mensintesisnya.
Akibat ulah Adil yang sok bijaksana itu. Satu orang lagi menyusul Tamam. Ia merasa rendah melihat gurunya membiarkan orang seperti Adil hidup di padepokan itu. Bahkan penjilat yang sombong itu dimenangkan oleh gurunya. Rasa hormat pada Sang Guru pun berubah menjadi rasa kecewa.
Dua orang murid sedang duduk di teras padepokan itu. Mereka sedang berbincang-bincang. ”Apa yang diinginkan Adil sebenarnya ya ?”, tanya seorang murid. ”Mungkin ia ingin diwarisi padepokan ini”, jawab murid satunya. ”Dia mau mengajar ? Ia bisa apa? Ya tak mungkinlah. Menurutku, pasti dia menginginkan Aji Kembang Goyang Guru”. ”Waduh gawat, bagaimana jadinya jika Adil mewarisi ilmu itu. Aku takut Adil akan menyalahgunakan. Aku tahu ambisi hidupnya menjadi orang kaya dan terhormat. Kita lihat latar belakangnya. Adil terlahir dalam keluarga yang sangat miskin. Keluarga buruh. Aku yakin ia menginginkan aji itu untuk ambisinya. Bayangkan kalau ia nanti seperti Hittler”. Perbincangan itu menemukan ribuan permasalah jika Adil menguasai ilmu itu. Tapi tak ada jalan keluar satupun yang mereka telurkan.
Berbulan-bulan perguruan itu masih bertahan dengan empat muridnya. Hingga pada suatu kesempatan ada sebuah kompetisi bela diri yang digelar di Kota Ngawi. Perguruan itu mengirimkan salah satu dutanya untuk mengikuti pertandingan itu. Duta itu tak lain adalah Adil. Murid-murid lainpun terheran-heran ”Gila, guru kita sudah benar-benar gila. Guru kita tak adil. Seharusnya Jaka yang mewakili pertandingan ini. Bukankah Sang Guru tak meragukan kemampuan Jaka ? Tapi kenapa dia mengutus Adil ? Apakah Guru ingin perguruan kita dipermalukan Adil ?”, komentar seorang murid. Murid lainnya pun menyahut, ”Benar. Guru kita sudah gila. Tak biasanya dia menginginkan tampil untuk sebuah kompetisi. Katanya tak ingin terkenal ? Tapi nyatanya ? Ikut juga dipertandingan komersiil ini. Apakah ia takut kehabisan murid ? Hingga akhirnya tampil juga ke dunia luar untuk mengiklankan perguruan ini ?”. Perbincangan itu berlangsung menyedot waktu. Isinya ribuan hujatan pada Sang Guru dan Adil. Akhirnya menjadi kesepakatan keduanya. Mereka memilih keluar dari perguruan.
Hasil kompetisi menunjukkan perguruan kecil yang hanya memiliki dua murid itu kalah telak dengan perguruan lain. Bahkan babak penyisihanpun mereka tak lolos. Adil sebagai peserta pertandingan sangat malu. Dipermalukan oleh teman SMP-nya sendiri, dimana suatu waktu Adil pernah mengalahkan anak itu di sebuah kompetisi tingkat sekolah. Adil menghujat habis-habisan gurunya. Ia menganggap Gurunya tak becus mendidiknya. Seharusnya Sang Guru itu mampu mendidiknya sepuluh kali lebih baik dari kondisinya sekarang.
Sehabis pertandingan. Teman SMP-nya itu mengajak Adil bergabung dengan perguruannya. Adil yang gila dengan harta dan tahta itu segera berpindah hati pada perguruan barunya. Ia yakin perguruan barunya lebih menjanjikan untuk meraih cita-citanya menjadi bodigat ataupun algojo para penguasa Negeri ini. Adilpun menghianati perguruan itu dengan mudahnya.
Murid yang tersisa di perguruan itu adalah Jaka. Murid terakhir di padepokan. Terjadilah perbincangan empat mata antara guru dan murid itu. ”Kenapa kau tak lari seperti temanmu yang lain ?”, tanya Sang Guru pada Jaka. ”Karena niat ingsun hanya satu, guru. Belajar pada guru. Tak ada tujuan lain. Niat dari awal ingsun belajar di sini. Ya saya tetap di sini sampai pendidikan saya selesai.”. ”Ilmu yang ku berikan telah habis. Sudah saatnya kamu mencari perguruan lain”, tambah Guru itu. ”Kalau guru menghendaki, saya akan meninggalkan perguruan. Tapi bagi saya, guru tetaplah guru saya. Perbolehkan saya ke sini lagi ketika saya kangen, guru”. ”Apakah kau menginginkan Aji Kembang Goyangku. Tapi sayang sekali aku tak akan mengajarkannya.”. ”Kalau guru tak menghendaki, aku juga takkan memintanya. Meminta bagiku mengemis. Seperti yang guru ajarkan, mengemis itu pantangan”. ”Bagus sekali. Kau tak hanya ingat apa yang aku ajarkan. Bahkan kau telah mempraktekkan ajaranku, anakku. Kau tidak pernah mengemis padaku atau mencuri ilmuku. Kau juga tak menjilatku agar aku menurunkan ilmu itu. Kau telah lolos ujianku. Kau berhak mewarisi ilmu itu. Ilmu itu tak sembarangan orang boleh memilikinya. Hanya orang yang berhati bersih yang dapat memilikinya. Segalanya tergantung niat. Adil pantas jadi kuli, karena niatnya disini membabu. Teman-teman mu lainnya belum tulus dalam belajar. Hatinya masih dijejali rasa curiga dan berburuk sangka. Tapi kau sungguh berbeda. Sekarang, aku percaya kau pantas memilikinya. Ikuti aku. Aku akan mengajarkan kepadamu”
Sepasang guru murid itu kemudian belajar Aji Kembang Goyang.

Artikel Terkait: